Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Showing posts with label Tips Menjadi Penulis. Show all posts
Showing posts with label Tips Menjadi Penulis. Show all posts

Tuesday, October 13, 2009

Para Penulis bilang....

“Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.”
[D.H. Lawrence]

“Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan.” [John Steinbeck]

“Kita tidak menulis untuk dipahami; tetapi untuk memahami.”
[C. Day Lewis]

“Di mana pun saya menemukan tempat untuk duduk dan menulis, di situlah rumah saya.” [Mary TallMountain]

“Deskripsi (penggambaran) harus menyelusup ke dalam cerita bagaikan seekor ular merayap di rerumputan, diam-diam, hampir ak terlihat, tanpa menarik perhatian.” [Marion Dane Bauer]

“Kata yang tepat mungkin efektif, tetapi tidak ada kata yang sama efektifnya seperti jeda yang tepat waktu.”
[Mark Twain]

“Kadang-kadang, kata yang paling sederhana adalah yang paling indah. Dan paling efektif.”
[Robert Cormier]

“Jangan pernah ragu meniru penulis lain. Setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, Anda akan menemukan gaya sendiri dan menanggalkan kulit penulis yang Anda tiru.”
[William Zinsser]

“Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena Anda terpaku padanya. Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu.”
[Joan Didion]

“Menulis kalimat pembuka suatu cerita hampir mirip dengan mulai berski di bagian bukit yang paling terjal. Anda harus mengendalikan semua keahlian sejak awal.”
[Marion Dane Bauer]

“Walaupun banyak hal terlalu ganjil untuk dipercaya, tiada hal yang terlalu ganjil untuk terjadi.”
[Thomas Hardy]

“Saya pikir, hal terbaik menjadi seorang penulis adalah kita dapat mereka-reka segala sesuatu sekaligus mengatakan kebenaran pada saat yang sama.”
[Kyoko Mori]

“Memiliki imajinasi saja tidaklah cukup. Anda harus dapat benar-benar masuk menembus ke dalamnya, merasai seluruh isinya.”
[Stephen King]

“Gagasan seorang penulis adalah hal-hal yang menjadi kepeduliannya.”
[John Gardner]

‘Dan karena saya tidak menemukan hal lain untuk ditulis, saya menyediakan diri sendiri sebagai subjek.”
[Montaigne]

“Ruang menulis saya selalu penuh dengan skema garis besar dan bagan cerita (story-board) bab terbaru.”
[Janet E. Grant]

“Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda gagal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.”
[Michael Crichton]

“Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis…”
[Gertrude Stein]

Wednesday, July 22, 2009

Jurus Jurus Pemula

Sebelum memilih topik, sebelum mencari bahan, sebelum menuangkannya dalam tulisan, setiap pengarang (calon penulis) perlu latihan. Seperti pelari ia membutuhkan jogging harian, maka pengarang pun membutuhkan buku harian. Dengan buku hariannya, pengarang berlatih menyusun kalimat bagus setiap hari. Meskipun setiap hari kita melihat langit, belum tentu bisa melukiskan sebagus-bagusnya dengan kata.

Untuk memulai, Anda boleh membuat buku harian. Dalam buku harian, kita bukan hanya belajar mencatat pengalaman dan pengetahuan, tapi juga menggunakan perasaan.

Buku Harian

Dari ranjang ke ranjang adalah bahan terbaik untuk buku harian. Artinya mulai dari kita bangun tidur, sampai nanti kembali tidur. Cerita itu bisa jadi novel. Bisa cerpen, puisi atau laporan ilmiah. Banyak gadis jadi tersohor karena buku-buku harian mereka. Misalnya Kartini dari Jepara, dan Anne Frank di Amsterdam. Buku harian kedua gadis itu membuka mata dunia, bahwa hidup terlalu berharga untuk lewat dalam pikiran.

Kecil atau besar hati manusia memang tercermin dalam buku hariannya. Kebesaran jiwa, keagungan cinta dan kemuliaan persahabatan hati juga tergambar jelas dalam buku harian kita. Tapi itu tidak berarti buku harian merugikan kita. Menulis buku harian, bukan berarti bunuh diri. Justru dengan menulis, kita membangun kepribadian, mengasah keterampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata.

Korespondensi

Kalau mau lebih bagus lagi korespondensi adalah jawabannya. Menulis surat adalah latihan berkomunikasi, sekaligus membentuk kepribadian. Dalam menulis surat kita berlatih memilih dan memilah kata-kata yang pantas untuk pembaca. Dalam hal ini, pembaca bisa berarti teman dekat, ortu, guru, murid, kakek, pejabat maupun orang asing sekalipun yang belum pernah kita kenal di tempat yang jauh.

Tapi bagaimana caranya menulis surat? Langsung saja bicara. Siapa tahu surat Anda bisa menggagalkan rencana teman yang ingin bunuh diri. Siapa tahu pula surat Anda mendorong seorang lelaki yang patah hati jadi pemain bola sekelas Michael owen. Jadi, untuk bikin surat, langsung saja Anda menuliskan apa yang ada di benak. Jangan takut salah, dan pandai-pandailah memilih kata-kata yang cocok.

H.B. Jassin menulis ribuan surat untuk pengarang-pengaran Indonesia. Dengan surat ia membesarkan hati dan memberi semangat kepada penulis di negeri ini. Kumpulan suratnya bisa Anda beli di toko-toko buku terkemuka. Jassin seorang di antara penulis surat terbaik selain Iwan Simatupang dengan surat-surat politiknya, dan Leila Budiman dengan surat-surat psikologisnya. Ia mengasuh ruang konsultasi pribadi di harian KOMPAS setiap hari minggu.

Surat-surat Roosevelt kepada istrinya, Nehru kepada putrinya, Indira, termasuk kumpulan surat terlaris di dunia. Atau surat-surat Mariam Jamilah kepada Al Maududi itu juga merupakan surat yang mampu memberikan nuansa tersendiri kepada pembaca lainnya. Mengapa mereka bisa? Karena mereka mencintai bahasa.

Hobi Meneliti

Rasa ingin tahu yang melejit-lejit di masa kanak-kanak sebaiknya jangan sampai padam. Tragedi yang sering menimpa rakyat adalah terbunuhnya rasa ingin tahu. Seolah-olah kita bisa hidup tanpa informasi. Dalam lingkungan seperti itu, buku paling bagus pun tak ada gunanya.

Hobi meneliti bisa dikembangkan sejak kecil. Mengenal nama-nama pohon di sekitar rumah, misalnya. Juga menghitung anak tangga, tiang listrik, maupun jumlah jendela kamar di rumah sendiri. Perhatian pada hal-hal praktis sangat penting bagi pencinta ilmu pengetahuan. Dan apabila Anda ingin jadi pengarang, itulah langkah panjang untuk memulai.

Tanpa datang ke rumah dan membuka almari pakaian, seorang pengarang muda bisa tahu jumlah baju temannya. Coba saja diingat warnanya, dicatat dalam hati, dan diperhitungkan dengan diam-diam. Kalau dalam tempo tiga bulan Anda bisa mengenali warna-warna dan hari pemakaiannya, bagus. Bukan saja Anda betul-betul pemerhati yang agung, tapi juga calon peneliti dan pengarang unggulan.

Minat meneliti menentukan kedalaman dan luasnya jangkauan karangan kita. Sebelum menulis Ikan-ikan Hiu, Ido, Homa, Y.B. Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup maritim di sana. Begitu juga novel Para Priyayi Umar Kayam, yang ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan tinggi di Amerika Serikat. Juga Ernest Hemingway yang rela mengarungi lautan, berminggu-minggu hanya untuk mengetahui secara jelas kehidupan di tengah laut sebelum menulis sebuah novel berjudul The Old Man on The Sea.

Investigasi, penyidikan, penelitian, barangkali dapat menjadi penyaluran positif bagi para pengintip. Tetapi jangan lupa, minat ini baru modal awal seorang penulis (pengarang). Masih perlu dilatih pula, bagaimana mengobral hasil temuan dengan sebaik-baiknya. Selamat mencoba![]

Bangkitkan Kehebatanmu!

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Penulis buku-buku best seller, antara lain Kupinang Engkau dengan Hamdalah, Kado Pernikahan untuk Istriku, Indahnya Pernikahan Dini dan Agar Cinta Bersemi Indah

writingcontest

Banyak penulis berbakat, tetapi tidak mampu membuat tulisan yang hebat. Mereka pernah menjadi juara di berbagai sayembara mengarang; mereka memperoleh penghargaan di berbagai perlombaan; mereka menumpuk piala-piala di ruang tamunya, tetapi tak satu pun karya berharga yang mampu mereka tulis. Selebihnya, piala-piala itu hanya menjadi kisah membanggakan untuk penghias cerita saat datang kenalan.

Apa yang menyebabkan mereka gagal menjadi penulis handal? Mental. Karena tidak memiliki mental pemenang, mereka gagal menjadi penulis cemerlang. Apa saja yang perlu kita miliki agar dapat melahirkan tulisan yang selalu dicari-cari? Inilah beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk melejitkan kehebatan kita sebagai penulis:

Jadi yang Terbaik, Bukan yang Lebih Baik

Ada dua penyakit yang sering membuat kita tak pernah melejit, yakni banyak mengeluh atau sebaliknya terlalu cepat merasa puas. Banyak mengeluh membuat kita tidak pernah puas, dan akhirnya menjadikan kita tak pernah memiliki rasa percaya diri bahwa tulisan kita cukup berharga. Kita selalu merasa lebih jelek, sehingga tidak pernah berani mempublikasikan. Sebaliknya, terlalu cepat merasa puas membuat kita tidak berkembang. Kita merasa cukup sebelum melakukannya secara optimal. Kita merasa qana’ah, padahal sebenarnya merupakan sikap

seenaknya.

Penyakit terakhir ini sering saya temui pada banyak penulis. Mereka lebih hebat dari saya, tetapi mereka tidak mampu melahirkan karya dahsyat. Sebabnya sederhana, mereka menganggap tulisannya lebih baik dari orang lain. “Ah, saya kira sudah cukup. Banyak yang lebih sederhana dari ini, juga bisa terbit.” Alhasil, karya mereka pun hanya menjadi karya “yang sedang-sedang saja”, meskipun awalnya memang lebih baik dari orang lain.

Nah, jika kita ingin melahirkan karya yang memikat, ada satu sikap mental yang perlu kita miliki. Saya sering menggambarkannya dalam ungkapan if the best is excellent, good is not enough. Sederhananya, jika mampu melakukan yang terbaik, tidak layak melakukan yang sekedar baik. Meskipun “yang sekedar baik” itu sudah jauh lebih baik daripada seluruh tulisan yang ada, tak layak kita menuliskannya jika kita memang mampu melahirkan tulisan yang lebih baik lagi.

Alhasil, camkanlah untuk selalu menulis dengan sebaik-baiknya. Ini tidak berarti kita berhenti menulis bila kita sedang sakit karena khawatir tulisan kita tak sebaik kemarin. Tetapi, kita harus menulis dengan sebaik-baiknya sesuai keadaan kita saat itu. Kita melakukan yang terbaik jika kita meraih nilai tujuh karena memang kemampuan maksimal saat ini adalah tujuh, meskipun kemarin kita mampu meraih nilai sembilan. Sebaliknya, nilai delapan saat ini bisa merupakan prestasi yang menyedihkan kalau sebenarnya kita mampu meraih nilai sepuluh.

Termasuk mental untuk menjadi yang terbaik adalah berusaha melahirkan tulisan terbai untuk media yang terbaik pula. Kalau kemudian kita menulis di media yang tingkat persaingannya rendah, jangan pernah karena alasan mudah menembusnya. Alasan semacam ini selain membuat kita tidak puas, juga membuat kita semakin tidak percaya diri. Lama- lama kita malah mengalami ketakutan untuk memasuki persaingan yang kita. Pada akhirnya kita benar-benar tidak mampu menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan perlu. Inilah fenomena ketidakberdayaan karena kita merasa tidak berdaya. Selligman menyebutnya sebagai learned hopelessness (ketidakberdayaan yang dipelajari).

Ketika pertama kali mau menulis buku untuk diterbitkan, tahukah apakah yang saya lakukan? Saya cari informasi penerbit terbaik dan paling sulit ditembus. Waktu itu, jawabannya adalah Penerbit Mizan. Maka saya pun memancangkan tekad, saya akan menulis buku yang layak untuk Penerbit Mizan. Alhamdulillah, naskah saya diterima, cukup meledak di pasaran, dan cetakan kedua dibeli seluruhnya oleh proyek pusat perbukuan pemerintah.

Belajar Dari Kesalahan Sendiri

Orang-orang yang memiliki mental pemenang selalu berusaha untuk lebih daripada sebelumnya. Artinya, kita berusaha lebih baik bukan dibanding orang lain, tetapi dibanding diri sendiri. Jika merasa lebih baik daripada orang lain akan segera mengubur kehebatan kita ke

jurang yang paling dalam, berusaha untuk selalu lebih baik daripada sebelumnya akan membuat kita menjadi a few good ones (sekelompok kecil penulis-penulis terbaik).

Salah satu cara untuk selalu lebih baik daripada sebelumnya adalah dengan belajar dari kesalahan diri sendiri. Dulu, ketika awal-awal menulis di media massa, saya selalu menyimpan tulisan asli. Bila dimuat, masalah pertama yang saya perhatikan adalah, adakah perbedaan antara tulisan asli dengan tulisan yang sudah dimuat. Jika ada perbedaan, perhatikanlah dengan seksama apakah perbedaan itu karena kelalaian editor ataukah karena tulisan kita memang perlu disempurnakan. Bagaimana mengetahuinya? Kita bisa menalar sendiri, tetapi bisa juga menemui editornya. Melalui cara ini, insya-Allah kualitas tulisan kita akan bisa meningkat dengan cepat.

Cara lain adalah mencari naskah yang terbuang. Di awal karier saya menulis, saya merasa senang bila menemukan tulisan yang dibuang di tempat sampah editor. Dibanding membaca karya-karya yang sudah terbit, tulisan yang terbuang di tempat sampah seringkali memberi pelajaran yang lebih banyak (soalnya, kadang tulisan kita dimuat kan karena kasihan. He… he… he….).

Apalagi yang perlu kita perhatikan untuk membangkitkan kehebatan kita sebagai penulis? Ada empat hal. Tetapi karena terbatasnya halaman, insya-Allah kita akan berjumpa di An-Nida’ edisi depan. So, don’t miss it! OK?

Sebelum berpisah, jangan lupa: Be the best, but not the better. Jadilah yang terbaik, tapi bukan yang lebih baik. Daaaagh… [source: Bengkel Nulis]

Bagaimana Menulis di Surat Kabar?

Di dalam tulisan terdahulu telah di paparkan sejumlah kiat bagaimana Anda bisa menulis di media massa terutama surat kabar harian. Tulisan itu memfokuskan kepada cara menulis artikel di ruang opini. Sudah banyak diketahui bahwa menulis di ruang opini merupakan peluang terluas bagi para pembaca untuk mengemukakan gagasan dan opininya.

Tidak hanya Anda dapat mengutarakan pandangan mengenai sebuah peristiwa tetapi juga Anda bisa mendapatkan penghargaan berupa imbalan bagi tulisan. Biasanya setiap surat kabar sudah menganggarkan dana khusus bagi para penulis. Ruang artikel tidak hanya merupakan rubrik tetap tetapi juga menghangatkan dan meramaikan tampilan surat kabar. Lebih dari itu, dengan adanya artikel ini - apalagi dari kalangan spesialis - maka pengetahuan pembaca ini juga akan bertambah cepat. Sebuah persoalan duduk perkaranya bisa dipahami dalam sebuah artikel.

Inilah salah satu kegunaan artikel di dalam surat kabar. Tulisan itu “fresh” dan aktual serta tidak jarang menyeluruh dan mendalam. Akan tetapi kekuatan sebuah artikel tidak hanya kepada data yang sedang mengemuka tetapi juga susunan tulisan yang mudah dipahami.

Tulisan ini akan memberikan informasi mengenai bagaimana persiapan yang diperlukan jika memang Anda - apalagi kalangan mahasiswa dan akademisi - mau memanfaatkan media massa sebagai ajang olah fikir dan olah argumentasi.

Pertama, pilih topik yang Anda kuasai. Jika Anda seorang ilmuwan sosial maka sebaiknya memang masalah sosial dan kemasyarakatan yang Anda ungkapkan dalam tulisan di media massa. Dengan latar belakang ini, maka Anda memiliki setidaknya otoritas dalam penulisan. Dengan latar belakang memang di bidang sosial maka dengan sendirinya, Anda diharapkan mengetahui sejumlah pilar penting dalam tata kemasyarakatan, persoalan di dalamnya dan berbagai alternatif yang akan ditawarkan.

Kalau meminjam istilah David Easton dimana masyarakat merupakan sebuah sistem sosial maka akan input berupa tuntutan dan dorongan kemudian diproses di dalam black box (proses sosial) dan kemudian ada output yang berupa hasil dari penyelesaian masalah sosial yang akhirnya merupakan umpan balik untuk input berikutnya. Itulah cara berfikir dari sistem sosial yang dijelaskan dalam teori David Easton. Namun Anda tidak harus terpaku kepada satu dua teori, dalam artikel yang Anda tulis kebebasan sangat terbuka membuat teori dan pandangan baru.

Kedua, pilih topik yang Anda sangat minati. Bisa jadi seseorang yang ahli di bidang peternakan lebih senang menulis sastra. Tidak ada yang salah mengenai ini. Anda masih bisa menulis bidang kritik sastra dengan minat Anda yang menggebu-gebu. Hobi kadang-kadang lebih diperdalam daripada latar belakang pendidikan Anda. Banyak hal terjadi memang dalam kehidupan namun inilah peluang yang Anda bisa gunakan untuk mengisi halaman surat kabar setiap harinya. Minat Anda bisa dibagi dengan pembaca lainnya.

Ketiga, buatlah kliping. Jika Anda berminat pada satu bidang katakanlah keselamatan transportasi, maka sebaiknya memantau data terakhir melalui surat kabar, majalah atau internet untuk dijadikan bahan mentah tulisan Anda. Yang penting adalah data mentah seperti banyaknya kecelakaan, modus kecelakaan dan korban. Dari data ini Anda bisa menyajikan statistik mengenai kecelakaan transportasi darat, laut dan udara sehingga bisa mengulasnya lebih aktual. Mengapa harus kliping? Karena kalau Anda memuat data dari buku teks misalnya, Anda akan ketinggalan karena biasanya di buku-buku teks itu datanya sudah lama. Data kependudukan dam kemiskinan di Indonesia misalnya, itu bisa didapatkan dari pengumuman Badan Statistik Nasional. Kliping bisa berbentuk digital karena sekarang sudah modern tetapi juga bisa berupa lembaran kertas yang disimpan dalam folder khusus.

Keempat, membuat perencanaan. Ada kalanya sebuah tulisan lahir dari perencanaan yang baik. Jika Anda tahu Hari Dirgantara atau Hari Ibu maka sebuah karya tulis bisa disusun untuk memperingati hari bersejarah itu. Tentu harus dibuat terlebih dahulu apa yang akan diulas dan bagaimana Anda menyusun argumentasinya. Sangat penting Anda membuat outline mengenai gagasannya terlebih dahulu sehingga nanti menuliskannya lebih mudah. Sebaiknya tulisan juga menyertakan data yang aktual dan kutipan yang berbobot apakah dari ilmuwan atau tokoh penting.

Empat hal itu barangkali merupakan pembukaan bagi Anda untuk menulis secara reguler di dalam media massa. Terlihat sederhana namun jika diperhatikan maka akan terasa sekali pentingnya. Jika ada keahlian dan minat, misalnya, Anda sulit menuangkan karya dan gagasan Anda dalam penulisan. Menguasai materi sangat penting untuk penulisan yang berjangka panjang. Kecuali Anda hanya menulis satu kali setahun untuk media, maka tidak perlu ada rencana yang rinci. [source: Journalist Adventure]

Menulis itu Gampang

Menulis itu gampang? Saya sendiri berani mengatakan gampang, bukan karena saya sudah bisa, tapi karena saya melihat banyak orang bisa menulis, berarti keterampilan ini bisa dipelajari. Menulis adalah keterampilan? Betul. Sama seperti naik sepeda atau mengendarai mobil. Makin sering dilatih, makin lihailah kita. Saya waktu kecil masih inget sering minjem sepeda adiknya nenek saya, sepeda ontel. Saya tertantang untuk bisa. Saya coba kayuh sekali, jatuh. Saya mencoba menyeimbangkan badan saat kaki sebelah kanan menginjak pedal sepeda dan kaki kiri masih menginjak tanah. Saja coba jalankan sepeda dengan kaki kanan menginjak pedal dan kaki kiri menginjak tanah. Terus seperti itu sambil mencoba menjalankan sepeda. Sesekali saya mencoba kaki kiri untuk ikut mengayuh pedal, tapi sepeda sempoyongan ke kiri. Gubrak! Saya jatuh. Tapi mencoba bangun lagi. Terus seperti itu. Saya lupa persisnya berapa hari berlatih naik sepeda, tapi seingat saya dua pekan setelah sering jatuh, saya mulai bisa menyeimbangkan badan dan mengayuh sepeda dengan dua kaki. Tapi saya masih “seureudeug” alias gerasak-gerusuk dan akhirnya, beberapa kali sukses masuk solokan ketika menghindari pejalan kaki. Hehehe..

Tapi, perjuangan dan motivasi saya untuk bisa naik sepeda akhirnya berbuah hasil. Tak sampai sebulan saya sudah bisa naik sepeda. Makin sering dilakukan, makin lihailah saya. Sampai-sampai berani untuk tak pegang stang sepeda. Cihuy! Akhirnya bisa juga naik sepeda!

Kembali kita bahas tentang menulis. Menulis itu bukan bakat. Menulis adalah keterampilan. Tak ada bukti-bukti khusus bahwa seseorang bisa menulis dilihat dari wajah, jari-jari tangan, atau keturunannya. Tidak sama sekali. Menulis itu dipelajari. Sementara cara belajar setiap orang pasti berbeda-beda. Tidak sama. Jika dikatakan bahwa dengan belajar orang menjadi bisa. Insya Allah memang akan bisa jika belajar. Tapi jika ditanya apakah semua orang yang belajar akan sama keahliannya, saya memilih menjawab tidak. Sebab, di sekolah sepakbola misalnya, orang belajar dengan pelatih yang sama, waktu belajarnya juga sama, di kelas yang sama. Buku panduan (jika ada) juga sama. Bayar biaya sekolah sepakbolanya pun sama. Tapi, kenapa ada yang menjadi bintang lapangan dengan keahlian yang di atas rata-rata pemain lain? Ini bukan bicara bakat, tapi latihan. Ronaldinho atau Cristiano Ronaldo, memiliki waktu khusus untuk menempa kemampuannya dalam mengolah si kulit bundar. Berlatih lebih banyak dibanding pemain lainnya. Ini menjadi bukti bahwa keterampilan itu semakin diasah akan semakin bagus.

Menulis itu keterampilan, jadi butuh waktu khusus, butuh latihan khusus, butuh motivasi. Saya juga dulu tak bisa menulis. Bahkan sekadar menulis kata pertama untuk sebuah tulisan susahnya minta maaf (hehehe.. bosan pake kata “ampun”). Iya. Sering saya bermenit-menit memikirkan kata apa yag pertama kali harus ditulis. Ini ternyata sebuah kesalahan. Seharusnya langsung saja ditulis yang ada di benak kita saat itu. Sama seperti saya waktu belajar naik sepeda. Saya langsung nyoba. Tidak perlu berpikir lama menimbang-nimbang, saya harus mendorong dulu sepeda atau langsung menginjak pedal sepeda untuk mencoba menjalankan sepeda. Saya tidak peduli. Langsung coba. Nah, setelah tahu seperti itu, saya akhirnya menulis menjadi lebih cepat karena langsung menuliskan apa pun yang ada di pikiran kita.

Lha, bukankah akan berantakan nantinya? Benar sekali. Bisa dikatakan 90% pasti “acak-adut” tak karuan. Tapi, target saya waktu itu adalah bisa menuangkan gagasan melalui tulisan secepat mungkin. Saya terus melakukan seperti itu. Hingga akhirnya lancar menuangkan gagasan. Baru setelah merasa yakin bisa dengan mudah untuk memulai menulis, bagian berikutnya adalah membaca ulang naskah yang sudah ditulis. Jika ada yang kurang bagus, diperbaiki bahasanya, kalimatnya, isinya, pilihan katanya dan sistematikanya. Ini artinya, menulis bukanlah keterampilan instan. Tapi harus sering dilatih dengan serius. Latihannya apa? Tentu saja menulis. Selain juga membaca untuk menyiapkan “amunisinya” sebagai bahan tulisan. So, yang perlu diubah pertama kali adalah cara pandang dan motivasi. Ubah cara pandang kita selama ini bahwa menulis itu susah. Tolong ubah cara pandang tersebut. Kita harus berani katakan, bahwa menulis itu gampang, asal mau melatihnya. Menjadi penulis itu bukan impian, asalkan kita mampu mempertahankan dan meningkatkan motivasi yang kita miliki untuk berlatih dan belajar. Jadi, menulis itu memang gampang, tapi ada caranya.

[Solihin]

9 Langkah Singkat Penulisan Buku

9 Langkah singkat untuk penulisan buku: (sekadar sharing pengalaman saja)

  1. Eksplorasi tema yang akan diangkat. Biasanya kita harus ‘hunting’ fenomena yang sedang hangat dibicarakan. Atau, bisa juga tema ‘abadi’ seperti masalah cinta. Tapi, kita coba bahas dari sudut pandang lain. Meski nilainya Islam, tetapi ‘rasanya’ khas: bahasa, metode penyampaian, segmentasi pembaca, dan solusi praktis/sistemik.
  2. Setelah tema kita genggam. Langkah kedua adalah menentukan judul yang kira-kira menarik. Usahakan judul untuk buku nonfiksi, ‘cuma’ terdiri dari 3 kata. Maksimal boleh 4 kata. Selain menarik, juga hemat kata. Simple deh. J
  3. Membuat outline. Ini diperlukan supaya pembahasan tidak melebar ke mana-mana. Pagari dengan beberapa bab yang mungkin untuk dibuatkan tulisannya. Jumlah bab bergantung kepada berapa banyak materi yang akan kita kupas habis dalam satu buku tersebut. Contohnya bisa lihat buku-buku yang sudah ada. Simak bagaimana para penulis itu menuangkan gagasannya dalam sebuah buku. Khusus untuk buku JNC, saya dan Iwan cuma butuh 4 bab. Itu pun terdiri dari 4 ide pokok; filosofi cinta, fakta perwujudan cinta, bagaimana mengendalikan cinta, dan solusi akhir dari ‘masalah’ cinta. Dan dengan catatan, cinta di sini adalah yang langsung berhubungan dengan perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Masing-masing bab terdiri dari beberapa tulisan yang memungkinkan untuk dibahas. Dikelompokkan dengan amat rapi, dan sedetil mungkin sehingga tidak ada pembahasan yang terlewat. Ini memang relatif, bergantung kepada faktor si penulis sebagai manusia dan sudut pandang yang dimilikinya selama ini (ideologis atau tidak).
  4. Pastikan dalam pembuatan outline itu terdiri dari formula standar: pemaparan fakta, pembahasan terhadap fakta, dan solusi Islam (baik praktis maupun sistemik). Arahnya harus sudah jelas. Jika keroyokan, maka ini kudu sering didiskusikan supaya terjaga alurnya. Alurnya boleh detil boleh secara global saja. Tapi untuk kedua buku kami (JJS dan JNC) yang ditulis berdua itu tidak dilakukan karena kebetulan sudah bisa dipahami alur penulisannya. Bahkan outline yang dibuat pun langsung fixed jadi daftar isi. Pengalaman yang agak melelahkan sewaktu membuat buku Yes! I am MUSLIM. Itu buku tebel banget karena saya ingin jadikan buku itu sebagai masterpiece dari semua karya saya. Buku itu saya buat dalam waktu setahun. Lambat banget, tapi waktu setahun itu habis untuk nyari data dan editing. Sementara nulis mentahnya sendiri selama 1 bulan. Itu pun saya nulis nggak tiap hari, seminggu paling 3 atau 4 hari dengan durasi maksimal 3 jam.
  5. Langkah selanjutnya adalah penelusuran fakta yang akan dijadikan sebagai bahan/data penulisan. Ini amat penting bagi sebuah buku nonfiksi. Jangankan nonfiksi, buku fiksi saja harus jelas datanya yang akan digunakan sebagai latar cerita tersebut. Seakurat mungkin. Sebab, kalo salah ambil fakta atau sekadar cuap-cuap aja kan nggak mutu istilahnya. Jadi tahapan ini amat penting dilakukan. Data-data itu bisa didapat dari berbagai sumber; digital dan nondigital. Saya dan Iwan sejauh ini mengandalkan sourcing data di internet. Untuk menghemat waktu, pencarian data biasanya saya dan Iwan mempercayakan kepada seorang kawan yang memang ‘tekun’ banget dalam penelusuran datanya. Asal diberi batasan dan spesifikasinya insya Allah bisa berjalan. Kalo pun ada kekurangan di sana-sini, biasanya kami langsung hunting lagi sebagai pelengkap. Tapi untuk buku JNC, saya dan Iwan langsung memburu data sendiri. Beda dengan Jangan Jadi Seleb, karena harus kuat di data, kami menyerahkannya kepada seorang kawan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kami inginkan. Enaknya lagi, ‘perpustakaan digital’ yang dimiliki media tempat kami bekerja (sekarang udah ‘almarhum’, yakni Majalah Permata) udah cukup memberi kesegaran untuk membuat tulisan lebih berbobot. Catatan: datanya terdiri dari ‘dalil aqli’ dan ‘dalil naqli’. Jadi, selain data dari fakta di lapangan, juga data yang sifatnya untuk menguatkan argumentasi, yakni dari al-Quran, hadits, ijma sahabat, dan juga qiyas. Tapi yang pasti, tulisan itu kudu ideologis!
  6. Setelah data terkumpul, jika sendiri menulisnya, maka saya biasanya langsung saja menyusun tulisan (seperti pada buku Jangan Jadi Bebek). Tapi untuk Jangan Jadi Seleb dan Jangan Nodai Cinta, saya membagi tanggung jawab penulisan dengan Iwan. Untuk JNC, masing-masing dua bab. Terserah aja mau pilih yang mana. Tapi karena saya dan Iwan udah tahu karakter tulisan masing-masing (maklum, sejak tahun 1989 bareng terus dan punya keterampilan menulis untuk segmen remaja), maka posisi penanggung jawab utama untuk bab-bab yang sudah dibuatkan outlinenya langsung saya tentukan; bab 1 dan bab 3 bagian Iwan, sementara bab 2 dan bab 4 saya yang pegang. Setelah kelar, tukar posisi dalam mengedit. Terakhir, saya yang edit total dari semua tulisan. Termasuk pengaturan font, footnote dan kroscek data. Melelahkan memang. Tapi alhamdulillah, hasilnya juga lumayan. J
  7. Selama penulisan, update data terbaru tetap dilakukan. Supaya terasa hangat terus. Itu dilakukan sampe editing akhir. Sangat boleh jadi fakta-fakta terbaru akan menggeser data yang sudah kita buat. Tak masalah, selama memang itu memiliki nilai jual tinggi sebagai sebuah ide.
  8. Jangan lupa, tentukan deadline penulisan. Kalo nggak, bisa jadi akan molor terus. Bukankah kita perlu target dan itu harus terukur? Buku JJS kami patok maksimal 3 bulan (karena sourcing datanya yang agak lama, yakni hampir 2 bulan. Sementara untuk penulisan kami membutuhkan 1 bulan). Untuk JNC kurang lebih sama. 3 bulan adalah patokan standar kami untuk buku nonfiksi. Bahkan kalo keroyokan lebih enak lagi. Karena kadang muncul ide-ide segar dari teman nulis kita. Jadi lengkap kan? Meski tentunya bukan berarti menulis sendiri tidak bagus, lho. Itu mah bergantung kepada kreativitas penulisnya.
  9. Menerbitkan buku kita. Nah, kalo udah semua dilakukan, langkah berikutnya adalah ‘mencari’ penerbit. Modal nekat aja. Kirim ke berbagai penerbit secara berurutan print out dari buku kita. Pokoknya pede. Harus tahu diri juga kalo kita belum dikenal siapa pun. Ini yang lumayan lama euy. Karena biasanya naskah ngendon di sana minimal 1 bulan. Maksimal 3 bulan. Bayangkan, jika satu penerbit menolak, maka mulai lagi dari nol. Di penerbit kedua, dengan waktu yang kira-kira sama. Wuih, jenuh juga kan nunggunya? Daripada manyun, akhirnya saya suka ‘iseng’ nyari tema lain dan siap-siap bikin buku baru. Sekadar tahu saja, buku JJB sudah mampir di tiga penerbit. Tapi semuanya mengembalikan draft buku tersebut. Tapi alhamdulillah semangat saya yang menggebu disambut penerbit GIP, sekarang alhamdulillah jadi buku best seller. Tapi berbeda jika kita kebetulan udah ‘ngetop’ prosesnya jadi lebih mudah. Menyenangkan sekali bukan? Bahkan sangat boleh jadi kita akan diuber beberapa penerbit yang minta naskah ke kita.
[Solihin]

Inspirasi

“Saya suka menulis waktu saya merasa kesal; itu seperti bersin yang melegakan.” [D.H. Lawrence]

“Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan.” [John Steinbeck]

Alirkan Saja Idemu!

Ya, alirkan saja idemu dalam tulisan. Jangan berpikir tentang tulisan yang jelek atau bagus. Karena pikiran tersebut akan menghambat dan mengganggu proses mengalirkan gagasanmu. Alirkan saja sebisa mungkin, semampu mungkin, bila perlu imajinasinya ’seliar’ mungkin. Oya, kata “seliar” harap digaris bawahi dengan pengertian positif. Artinya, silakan gunakan improvisasi permainan kata dan memunculkan ide yang akan ditulis dengan sebebasnya tanpa khawatir salah atau jelek. Makin sering kita menulis, insya Allah akan makin mahir mengalirkan ide. Makin sering menulis, akan semakin lihai dalam membanjirkan ide dalam tulisan kita. Jujur saja, saya sering merasa kewalahan manakala ide sudah banyak dan ingin segera mengalirkannya dalam sebuah tulisan, dan kadang sulit dihentikan begitu saja. Silakan rasakan sendiri pada suatu saat dimana kamu udah sering melatih diri menulis. Rasakan! :-)

Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh para penulis pemula atau mereka yang hendak belajar menulis adalah: “Bagaimana cara mengalirkan gagasan atau ide yang kita miliki dalam sebuah tulisan?” Jawaban saya sederhana: Segera alirkan ide lewat tulisan sebagaimana kita melepas sumbatan yang bercokol di pipa atau selokan jalan air sehingga air akan mengalir deras karena sudah tak kuasa ditahan oleh sumbatan. Dalam menulis, menurut saya, sumbatan itu bisa banyak: malas; takut salah; takut gagal; dan khawatir karyanya jelek. Umumnya sih daftar sumbatannya ya seperti itu.

Malas? Waduh, ini sih penyakit paling sering diderita siapapun, termasuk penulis: baik penulis senior maupun penulis pemula. Kalo udah malas, nggak ada obat mujarab selain berontak terhadap rasa malas itu. Tataplah dunia luar. Lihat orang lain yang berada di depan kita. Mungkin saja mereka berada selangkah lebih jauh atau malah ratusan langkah meninggalkan kita yang diam termangu tanpa bisa berbuat apa-apa. Tidakkah kita tergerak mengejarnya? Membuang semua rasa malas yang bersarang di dalam pikiran dan perasaan kita. Kalo nggak tergerak, kayaknya siap-siap aja makin jauh ketinggalan. Rasakan! Rasakan bagaimana perihnya tertinggal dan ditinggalkan oleh mereka yang berhasil ketimbang diri kita. Insya Allah, dengan menatap lingkungan sekitar, akan menjadi cambuk untuk menghempaskan rasa malas kita.

Rasa malas hanya akan tetap berbaring di pikiran dan perasaan kita, saat kita merasa tak perlu suasana kompetisi dalam hidup ini. So, segeralah menulis. Kuatkan pikiranmu untuk mengumpulkan semua ide yang mungkin saja sudah menumpuk di benakmu. Lihat, orang lain yang sudah jauh meninggalkan kita dengan tulisan-tulisan yang dibuatnya, dengan buku-buku yang berhasil diterbitkannya. Ayo bangkit dari tidur lelapmu, buang rasa malas. Jangan sampe deh kita bengong saat orang lain telah banyak menorehkan catatan amal baik yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain. Keuntungannya? Insya Allah buat kita sendiri, karena telah menyebarkan kebenaran, telah menyampaikan kebaikan, dan telah memberikan banyak inspirasi kepada orang lain. Insya Allah kita bisa melakukannya. Bisa kok.

Selain rasa malas, sumbatan dalam diri kita yang menghalangi proses kreatif kita dalam menuangkan gagasan dan membanjirkannya adalah perasaan “takut salah”. Hmm.. siapa sih orang yang pengen salah? Nggak ada. Semua orang pasti ingin dianggap selalu benar di hadapan orang lain, meskipun kadang melakukan kesalahan. So, sebenarnya nggak ada yang salah dengan kesalahan yang kita buat. Maksudnya, kalo memang salah ya salah. Akui kesalahan itu dan berusaha untuk memperbaikinya di kemudian hari. Jadi kita bisa belajar dari kesalahan yang kita buat. Justru yang aneh bin ajaib adalah orang yang sudah tahu salah tapi nggak mau mengakui kesalahan dan merasa tak perlu memperbaiki kesalahannya. Itu yang salah dari kesalahan yang dibuatnya.

Nah, sumbatan berupa perasaan “takut salah” harus dihempaskan dari pikiran dan perasaan kita. Meskipun hal itu tampak wajar dan manusiawi, tapi gimana jadinya kalo sampe menguasai dan mendominasi pikiran dan perasaan kita sehingga membuat kita jadi tidak berani untuk menulis? Menulislah, dan jangan pernah takut salah. Sebab, kita bisa belajar dari kesalahan. Jangan khawatir. Justru adanya “kesalahan” bisa kita jadikan bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik. Insya Allah.

Bagaimana dengan perasaan “takut gagal”? Hmm… ada baiknya membaca pernyataan Michael Crichton yang menulis novel Jurrasic Park, “Sebuah karya akan memicu inspirasi. Teruslah berkarya. Jika Anda berhasil, teruslah berkarya. Jika Anda agal, teruslah berkarya. Jika Anda tertarik, teruslah berkarya. Jika Anda bosan, teruslah berkarya.”

Jadi, menurut saya sih, nggak perlu takut gagal. Sebab gagal itu biasa, justru yang luar biasa itu adalah mampu bangkit dari kegagalan dan jangan pernah takut gagal. Jalani aja apa adanya. Toh, sama seperti kesalahan, kita bisa bisa belajar dari kegagalan. Setuju kan?

Terakhir, tak perlu merasa khawatir dengan hasil akhir tentang jelek atau buruknya tulisan kita. Misalnya, orang lain bacanya aja bingung, pembaca malah nggak tahu maksud dari yang kita tulis, gaya bahasanya berantakan, EYD-nya nggak karuan. Buang jauh-jauh perasaan “khawatir jelek” tersebut dari pikiran dan perasaan kita. Karena itu akan menghambat proses kreativitas kita dalam menulis. Waktu saya jadi redaktur majalah PERMATA, ada penulis remaja yang sering mengirimkan karyanya dan selalu kami tolak dengan alasan memang tidak memenuhi standar baik isi maupun masalah teknis penulisannya. Tapi rupanya dia sangat semangat untuk kirim hasil tulisannya.

Dan buktinya, sebagaimana umumnya sebuah keterampilan, maka semakin sering menulis akan kian tampak hasilnya. Ya, akhirnya, kalo nggak salah pada tulisan yang keenam yang dikirimnya kepada kami kemudian kami muat di majalah. Sebab, ada tampak kemajuan dari gaya penulisan maupun isinya. Ini menjadi bukti bahwa semakin sering menulis akan membuat kita jadi mahir menuangkan gagasan dan memoles kualitas pesan yang disampaikannya. Rasakan dan percayalah!

Oke deh, semoga tulisan sederhana yang saya buat ini bermanfaat bagi siapa pun yang mengambil manfaatnya. Jadi, segera alirkan idemu dalam sebuah tulisan. Jangan tunggu esok hari, laksanakan sekarang juga dan rasakan hasilnya setelah sering berlatih. So, jangan pernah berhenti nulis!

[O. Solihin]